Selamat datang di Settiablog

Showing posts with label Sejarah. Show all posts
Showing posts with label Sejarah. Show all posts

Tuesday, January 8, 2013

Sejarah Muhammadiyah di Pangkatrejo

Kalau orang yang belum datang dan mengenal sepintas lalu, keadaan desa yang kecil mungil ini, maka orang akan merasa senang dan menaruh perhatian
Apa dan mengapa demikian? Sejak dahulu desa ini mempunyai hal-hal yang istimewa dibandingkan dengan desa yang berdekatan. Pada umumnya sebagian besar penduduk desa ini hidup berdagang dan sedikit sekali yang mempunyai bidang-bidang tanah seperti desa lainnya.
Namun mengapa penduduknya dalam kehidupan kesehariannya cukup makmur dan lebih tinggi taraf hidupnya?
Hal demikian ini sudah menjadi kehendak Illahi Robbi xxxxx xxxxx.
Sejak tahun 1929 sudah ada gejala-gejala menuju ke arah kemajuan dalam lapangan pendidikan.
Diantara para pembangun dalam hal ini :
1. K. Shofyan
2. H. Mahmud Ali
3. H. Mahzumi Ali
4. Munawar Djaelani
5. Abd. Hamid Ismail
6. Zawawi Syukur
7. Hadi Winoto
8. Sampuni Abdullah
9. Mukaddu Ruthfi

Mulai tahun 1929 - tahun 1959

Nama-nama dari Balai Pendidikan tersebut adalah :
1. Periode pertama berdiri Pondok / Pesantren
2. Periode kedua berdiri Al Abdalyah
3. Periode ketiga berdiri H.I.S.I
4. Periode keempat berdiri P.A.I
5. Periode kelima berdiri Muhammadiyah
Setelah beberapa tahun berdiri Balai Pendidikan berbentuk Pondok Pesantren. Lama-lama mengalami perubahan-perubahan sedikit demi sedikit, maka bergantilah dengan nama Madrasah Al-Abdalyah dengan belum mempunyai gedung dan peralatan yang lengkap. Pengaruh Al-Abdalyah yang mulai berkembang dan pada tahun 1934 muridnya mulai dibatasi karena terbatasnya luas gedung.
Yang pada waktu itu masih dipinjami rumahnya Bapak H. Amin.
Al-Abdalyah berdiri 1932 – 1940 dengan tenaga guru sebagai berikut :
1. K. Sofyan Abdullah
2. Munawar Djaelani
3. H. Mahmud Ali
4. H. Mahzuni Ali
5. Abdullah Sunyoto
6. Mukattam Rufti
7. Tarbi
8. Abd. Hamid Isma'il
9. Tajib
10. R. Subakti
Dengan penuh semangat mereka menggembleng anak didiknya untuk berangkat menuju ke pantai kemajuan dan keunggulan derajat "masyarakat Islamiyah".
Berakit-rakit ke hulu, berenang ketepian.
Bersakit-sakit dahulu, berenang kemudian.
Kiranya demikianlah semboyan mereka.
Pada tahun 1940 – 1943 berubah menjadi H. I. S. I. (Holland – Indische – School – Islami) yang dipandang lebih maju oleh masyarakat, terutama masyarakat kota. Dalam hal ini menggembuhkan masyarakat Pangkatrejo dan sekitarnya. Apa sebabnya demikian? Karena di sekolah tersebut menjadikan perubahan-perubahan terutama dalam mata pelajaran umumnya, di sana diajarkan Bahasa Belanda, Bahasa Inggris, Kemasyarakatan, Kewartawanan, Mata Pelajaran Agama Bahasa Arabnya dipertinggi dengan pengantar Bahasa Arab, Kerajinannya olahraga dengan berbagai bentuk.
Dengan tenaga guru sebagai berikut :
1. K. Sofyan
2. Munawar Djaelani
3. H. Mahzuni Ali
4. Zawani Syahmi
5. R. Hadiwinoto
6. Muhaddan Rutfi
7. Sampuri Abdullah
8. Abd. Hamid
9. Martini
Dan setelah itu tumbuh menjadi P.A.I (Pendidikan Anak-anak Islam) dengan para pelopornya sebagai berikut :
1. Indarus
2. Abd. Kodir Ibrohim
3. Su'adji
4. Bakur
Berdirinya P.A.I ini dapat dukungan dari pejabat pemerintahan diantaranya Ass. Wadono Kec. Laren Swarsono, namun baru berdiri sebentar terhalang oleh keadaan yang sangat membawa pengorbanan yaitu seperti Militer Belanda I.

Ide Baru Mendirikan Muhammadiyah
Pada suatu saat kira-kira tahun 1950 atas inisiatif orang yang telah mengenyam kemaslahatan masyarakat merasa terpanggil untuk mendirikan suatu badan yang bertugas memajukan dan menjunjung tinggi agama Islam.
Maka timbullah suatu ide di Pangkatrejo untuk mendirikan suatu organisasi masyarakat yang mempunyai fungsi mengatur dan memelihara serta memumpuk kembali perjuangan di masa lalu.
Pendiri badan tersebut diantaranya :
1. Abd. Hamid Ismail (Mantan tenaga lama)
2. Suhari (Peg. KUA Kec. Sekaran)
3. Bayinan Chottob (pedagang dan aktifis)
4. Moh. Hasim Thahir (aktifis)
5. Muchasan Rutbi (Pedangan dan aktifis)
6. Mufti Aziz (pedagang dan aktifis)
Pada akhirnya yang semula belum mempunyai gedung sendiri untuk sekolah dengan gagasan dan para anggota maka akhirnya mengadakan gedung di rumah sendiri, dan gagasan tersebut dari para anggota dan aktifis yang tangguh dan gigi dalam perjuangan diantaranya antara lain :
1. Sukri Wiji (pedagang dan anggota yang paling aktif dalam pembangunan dan juga termasuk pendiri Muhammadiyah).
2. Karim
3. Bajinan Chattab
4. Mufti Aziz

Adapun seorang yang pertama memberikan pinjaman uang sebesar Rp. 1.000,- untuk membeli rumah sebagai gedung sekolah ialah Bapak H. Affandi. Tapi pada mulanya masih numpang di tanah orang dan akhirnya dapat juga tanah itu terbeli oleh seorang dermawan yaitu Bapak H. Sudkan seharga Rp. 400,- dan gedung bagian depan bantuan dari Bapak H. Affandi.
Demikian asal mula berdirinya balai pendidikan Muhammadiyah.
Dan pada tahun 1959, berdiri pula gedung TK. MELATI yang didirikan oleh Bapak Mufti Kusyairi yang bertempat di rumah Bapak Master (Karena belum punya gedung sendiri) yang kemudian berubah menjadi TK. ABA yang dikelola oleh Aisyiyah juga gedungnya yang semula di rumah Bapak Mastur kemudian pindah dekat MIM dan selanjutnya sekarang berada di Parengan dengan gedung yang megah atas bantuan dari Bapak H. Ruslan (H. Abd. Wahid Al Muham) dengan Bapak H. Mahfud.

Pimpinan Muhammadiyah Silih Berganti
Tahun demi tahun, Muhammadiyah Pangkatrejo silih berganti yang memimpin menurut dasar permusyawaratan antara para anggotanya. Karena masih ikut Cabang Gresik belum terbentuk Ranting maupun Cabang. Dan pada waktu itu Kecamatan Sekaran terdapat kantor Kecamatannya di Desa Pangkatrejo, maka setelah terbentuk Cabang, maka namanya Cabang Pangkatrejo sampai sekarang walaupun Kecamatannya sudah berpindah tempat. Dengan alasan menghormati jerih payah para pejuang yang telah merintis Muhammadiyah di Desa Pangkatrejo dengan perjuangannya. Belum berdiri Muhammadiyah di Kab. Lamongan, baru di Pangkatrejo itupun kegiatannya ikut Cabang Gresik.
Susunan Kepengurusan Sebagai berikut :
1. Abd. Hamid 1952 – 1954 (Almarhum)
2. Karim 1954 – 1955 (Almarhum)
3. Mahbub (Dari Blimbing / Almarhum)
4. Muhassan Rufbi 1955 – 1957 (Almarhum)
5. H. Zainuddin (1958 – 1963 / Almarhum)

Dan selanjutnya berkat kegigihan para pejuang yang tak pernah padam, maka tahun demi tahun bertambah maju. Selain soal pendidikan, Muhammadiyah telah hidup di tengah-tengah masyarakat yang telah menjalankan kehidupan adat berketurunan dengan menjalankan kehidupan yang jauh dengan ajaran Islam yang benar diantaranya mereka masih percaya dengan kekuatan selain Allah, diadakannya nyadran (sedekah bumi). Dengan berdirinya Muhammadiyah di Pangkatrejo hal yang demikian sedikit demi sedikit berangsur hilang, terutama sedekah bumi hilang total sampai sekarang.
Kalau Muhammadiyah Pangkatrejo telah berdiri beberapa saat, maka barisan mudanyapun tidak mau ketinggalan membangun diri dan berdiri di belakang ayahnya ialah Muhammadiyah. Kalau dulu H.I.S.I didampingi B.P.I, maka sekarang Muhammadiyah dikuati dengan prajurit-prajurit utama yaitu H.W. (Hizbul Wathon) sebagai tangan utama untuk menggerakkan segala usaha yang dijalankan.
Demikianlah HW Pangkatrejo muncul di tengah-tengah masyarakat yang telah ada kemajuannya sebab reklame zaman B.P.I telah terkesan baik. Kalau B.P.I dulu masih mengalami kepahitan kritikan dari masyarakat ramai, maka HW ini mendapatkan sambutan yang layak dan HWpun bisa membentuk persatuan sepak bola (PS.HW) yang sangat terkenal pada saat itu. Dan juga sering mengikuti konfrensi ke Mojokerto dan Surabaya. Penggerak HW pada waktu itu antara lain:
1. Karim
2. Mangun
3. Sufyan
4. As'ad Masykuri
5. Sufyan Widji
6. Tafni
Dengan para anggota H.W. yang cukup besar jumlahnya, H.W. dapat melebarkan sayapnya sekeliling Pangkatrejo diantaranya :
1. H.W. Desa Laren
2. H.W. Desa Sekaran
3. H.W. Desa Sedayu
4. H.W. Desa Kedungpring
5. H.W. Desa Blimbing
Demikian H.W. dengan semangat yang tulus selalu melangkah maju ke depan menuju kejayaannya.
Surat ketetapan dari PP pun bisa diselesaikan dengan baik. Patutlah kiranya hal ini dicontoh bagi para muda yang mengharapkan kemajuan kampungnya.
Tahun berganti tahun akhirnya pemuda Pangkatrejo dapat mendirikan Drum Band yang terkenal dengan sebutan (C.G.T). Luar biasa undangan yang harus dihadiri di masa kejayaannya
Kalau Bapak Mifti Kusyairi sang pendiri TK MELATI Muhammadiyah, maka tak ketinggalan H.W. diprakarsai oleh Bapak Mangun/Almarhum mendirikan Orkes Melati.
Perjuangan Muhammadiyah, Aisyiyah dan HWnya pun mencapai puncak kejayaannya, mulai periode Bapak H. Zainuddin / Almarhum sampai sekarang.
Periode Bapak H. Sofwan Aminul, Bapak Mudhofar Lumani.
Periode Bapak H. M. Fadheli Kaminum (4 periode)
Periode Bapak H. Drs. K.H. Ali Hilmy
yang didukung oleh pimpinan yang tangguh dan bertanggung jawab.
Bukti kejayaan Muhammadiyah dari awal didirikannya ialah :
1. Didirikannya TK. MELATI Muhammadiyah yang sekarang menjadi TK. ABA di Parengan.
2. Berdirinya MIM I Pangkatrejo
3. Berdirinya SMPM 4 Pangkatrejo
4. Berdirinya SAM. 3 Parengan
5. Berdirinya Pondok Al-Arqom Al Islami di Parengan
6. Berdirinya Balai Pengobatan di Parengan (asalnya di Cangkring)
7. Berdirinya ORKES MELATI
8. H.W
9. Dan lain-lain
Dan bergeraknya masing-masing majlis dalam menggerakkan tugas da'wahnya yang sampai sekarang masih berjalan dengan baik disertai sosial yang semakin nampak di masyarakat amar ma'ruf nahi munkar selalu digalakkan sebagai tujuan Muhammadiyah.
Marilah kita teruskan perjuangan Muhammadiyah yang mulia ini dengan tidak mengurangi cita-cita dan tujuannya demi mencari ridho Ilahi.
Jayalah Muhammadiyahku!!

By : Relawan Kampung Pangkatrejo

Sunday, January 6, 2013

Sejarah Kota Lamongan



Dulu Lamongan merupakan Pintu Gerbang ke Kerajaan Kahuripan, Kerajaan Jenggala, Kerajaan Panjalu, Kerajaan Singosari atau Kerajaan Mojopahit, berada di Ujung Galuh, Canggu dan kambang Putih (Tuban). Setelah itu tumbuh pelabuhan Sedayu Lawas dan Gujaratan (Gresik), merupakan daerah amat ramai , sebagai penyambung hubungan dengan Kerajaan luar Jawa bahkan luar Negeri.
Zaman Kerajaan Medang Kamulan di Jawa Timur, Di Lamongan berkembang Kerajaan kecil Malawapati ( kini dusun Melawan desa Kedung Wangi kecamatan Sambeng ) dipimpin Raja Agung Angling darma dibantu Patih Sakti Batik Maadrim termasuk kawasan Bojonegoro kuno. Saat ini masih tersimpan dengan baik, Sumping dan Baju Anglingdarma didusun tersebut. Di sebelah barat berdiri Kerajaan Rajekwesi di dekat kota Bojonegoro sekarang.
Pada waktu Kerajaan Majapahit dipimpin Raja Hayam Wuruk (1350 -1389) kawasan kanan kiri Bengawan Solo menjadi daerah Pardikan. Merupakan daerah penyangga ekonomi Mojopahit dan jalan menuju pelabuhan Kambang Putih. Wilayah ini disebut Daerah Swatantra Pamotan dibawah kendali Bhre Pamotan atau Sri Baduga Bhrameswara paman Raja Hayam Wuruk ( Petilasan desa Pamotan kecamatan Sambeng ), sebelumnya. Di bawah kendali Bhre Wengker ( Ponorogo ). Daerah swatantra Pamotan meliputi 3 kawasan pemerintahan Akuwu , meliputi Daerah Biluluk (Bluluk) Daerah Tenggulunan (Tenggulun Solokuro) , dan daerah Pepadhangan (Padangan Bojonegoro).
Menurut buku Negara Kertagama telah berdiri pusat pengkaderan para cantrik yang mondok di Wonosrama Budha Syiwa bertempat di Balwa (desa Blawi Karangbinangun) , di Pacira (Sendang Duwur Paciran), di Klupang (Lopang Kembangbahu) dan di Luwansa ( desa Lawak Ngimbang). Desa Babat kecamatan Babat ditengarahi terjadi perang Bubat, sebab saat itu babat salah satu tempat penyeberangan diantar 42 tempat sepanjang aliran bengawan Solo. Berita ini terdapat dalam Prasasti Biluluk yang tersimpan di Musium Gajah Jakarta, berupa lempengan tembaga serta 39 gurit di Lamongan yang tersebar di Pegunungan Kendeng bagian Timur dan beberapa tempat lainnya.
Menjelang keruntuhan Mojopahit tahun 1478 M, Lamongan saat itu dibawah kekuasaaan Kerajaan Sengguruh (Singosari) bergantian dengan Kerajaan Kertosono (Nganjuk) dikenal dengan kawasan Gunung Kendeng Wetan diperintah oleh Demung, bertempat disekitar Candi Budha Syiwa di Mantup. Setelah itu diperintah Rakrian Rangga samapi 1542M ( petilasan di Mushalla KH.M.Mastoer Asnawi kranggan kota Lamongan ). Kekuasaan Mojopahit di bawah kendali Ario Jimbun (Ariajaya) anak Prabu Brawijaya V di Galgahwangi yang berganti Demak Bintoro bergelar Sultan Alam Akbar Al Fatah ( Raden Patah ) 1500 sampai 1518, lalu diganti anaknya, Adipati Unus 1518 sampai 1521 M , Sultan Trenggono 1521 sampai 1546 M.
Dalam mengembangkan ambisinya, sultan Trenggono mengutus Sunan Gunung Jati ( Fatahilah ) ke wilayah barat untuk menaklukkan daerah Banten, Jayakarta, dan Cirebon. Ke timur langsung di pimpin Sultan sendiri menyerbu Lasem, Tuban dan Surabaya sebelum menyerang Kerajaan Blambangan ( Panarukan). Pada saat menaklukkan Surabaya dan sekitarnya, pemerintahan Rakryan Rangga Kali Segunting ( Lamong ), ditaklukkan sendiri oleh Sultan Trenggono 1541 . Namun tahun 1542 terjadi pertempuran hebat antara pasukan Rakkryan Kali Segunting dibantu Kerajaan sengguruh (Singosari) dan Kerajaan Kertosono Nganjuk dibawah pimpinan Ki Ageng Angsa dan Ki Ageng Panuluh, mampu ditaklukkan pasukan Kesultanan Demak dipimpin Raden Abu Amin, Panji Laras, Panji Liris. Pertempuran sengit terjadi didaerah Bandung, Kalibumbung, Tambakboyo dan sekitarnya.
Tahun 1543M, dimulailah Pemerintahan Islam yang direstui Sunan Giri III, oleh Sultan Trenggono ditunjuklah R.Abu Amin untuk memimpin Karanggan Kali Segunting, yang wilayahnya diapit kali Lamong dan kali Solo. Wilayah utara kali Solo menjadi wilayah Tuban, perdikan Drajat, Sidayu, sedang wilayah selatan kali Lamong masih menjadi wilayah Japanan dan Jombang. Tahun 1556 M R. Abu Amin wafat digantikan oleh R. Hadi yang masih paman Sunan Giri III sebagai Rangga Hadi 1556 -1569M Tepat hari Kamis pahing 10 Dzulhijjah 976H atau bertepatan 26 mei 1569M, Rangga Hadi dilantik menjadi Tumenggung Lamong bergelar Tumenggung Surajaya ( Soerodjojo) hingga tahun 1607 dan dimakamkan di Kelurahan Tumenggungan kecamatan Lamongan dikenal dengan Makam Mbah Lamong. Tanggal tersebut dipakai sebagai Hari Jadi Lamongan.
Setelah Indonesia Merdeka 17 Agustus 1945, daerah Lamongan menjadi daerah garis depan melawan tentara pendudukan Belanda, perencanaan serangan 10 Nopember Surabaya juga dilakukan Bung Tomo dengan mengunjungi dulu Kyai Lamongan dengan pekikan khas pembakar semangat Allahu Akbar. Lamongan yang dulunya daerah miskin dan langganan banjir, berangsur-angsur bangkit menjadi daerah makmur dan menjadi rujukan daerah lain dalam pengentasan banjir. Dulu ada pameo "Wong Lamongan nek rendeng gak iso ndodok, nek ketigo gak iso cewok" tapi kini diatasi dengan semboyan dari Sunan Drajat, Derajate para Sunan dan Kyai "Memayu Raharjaning Praja" yang benar benar dilakukan dengan perubahan mendasar, dalam memsejahterahkan rakyatnya masih memegang budaya kebersamaan saling membantu sesuai pesan kanjeng Sunan Drajat "Menehono mangan marang wong kangluwe, menehono paying marang wong kang kudanan , menehono teken marang wong kang wutho, menehono busaono marang wong kang wudho"
Saat Kabupaten Lamongan dikomandani H.Masfuk sebagai Bupati periode ke 2 dan H.Tsalis Fahmi sebagai wakil Bupati melejit bagaikan Sulapan dengan terobosannya yang menjadi perbincangan Nasional. Yang menonjol selama ini menjadi Ikon Wisata Bahari Lamongan (Lamongan Ocean Tourism Ressort), Lamongan Integrated Sharebased, Proyek Pelabuhan Rakyat, dan Proyek Lapangan Terbang dan Eksplorasi minyak Balong Wangi Sarirejo, memungkinkan datangnya investasi baik dari dalam negeri maupun investor luar negeri. Dengan tangan dinginnya PKL ditata rapi, Kelancara jalan desa dan pengairan ditata sedemikian rupa, termasuk memberikan Bea siswa bagi siswa dan mahasiswa berprestasi yang ekonominya kurang beruntung, dan nantinya jika telah menyelesaikan studynya bisa kembali dan menyumbangkan pikiran dan kemampuannya demi kemajuan Lamongan.

Friday, January 4, 2013

Cerita Sejarah Kota Lamongam


Nama Lamongan berasal dari nama seorang tokoh pada masa silam. Pada zaman dulu, ada seorang pemuda bernama Hadi, karena mendapatkan pangkat rangga, maka ia disebut anggahadi. Ranggahadi kemudian bernama Mbah Lamong, yaitu sebutan yang diberikan oleh rakyat daerah ini. Karena Ranggahadi pandai Ngemong Rakyat, pandai membina daerah dan mahir enyebarkan ajaran agama islam serta dicintai oleh seluruh rakyatnya, dari asal kata Mbah Lamong inilah kawasan ini lalu disebut Lamongan.
Adapun yang menobatkan Tumenggung Surajaya menjadi Adipati Lamongan yang pertama, idak lain adalah Kanjeng Sunan Giri IV yang bergelar Sunan Prapen. Wisuda tersebut bertepatan dengan hari pasamuan agung yang diselenggarakan di Puri Kasunanan Giri di Gresik, yang dihadiri oleh para pembesar yang sudah masuk agama Islam dan para Sentana Agung Kasunanan Giri. Pelaksanaan Pasamuan Agung tersebut bertepatan dengan peringatan Hari Besar Islam yaitu Idhul Adha tanggal 10 Dzulhijjah.
Berbeda dengan daerah-daerah Kabupaten lain khususnya di Jawa Timur yang kebanyakan mengambil sumber dari sesuatu prasasti, atau dari suatu Candi dan dari peninggalan sejarah yang lain, tetapi hari lahir lamongan mengambil sumber dari buku wasiat. Silsilah Kanjeng Sunan Giri yang ditulis tangan dalam huruf Jawa Kuno/Lama yang disimpan oleh Juru Kunci Makam Giri di Gresik. Almarhum Bapak Muhammad Baddawi di dalam buku tersebut ditulis, bahwa diwisudanya Tumenggung Surajaya menjadi Adipati Lamongan dilakukan dalam pasamuan agung di Tahun 976 H. Yang ditulis dalam buku wasiat tersebut memang hanya tahunnya saja, sedangkan tanggal, hari dan bulannya tidak dituliskan.
Oleh karena itu, maka Panitia Khusus Penggali Hari Jadi Lamongan mencari pembuktian sebagai dasar yang kuat guna mencari dan menetapkan tanggal, hari dan bulannya. Setelah Panitia menelusuri buku sejarah, terutama yang bersangkutan dengan Kasunanan Giri, serta Sejarah para wali dan adat istiadat di waktu itu, akhirnya Panitia menemukan bukti, bahwa adat atau tradisi kuno yang berlaku di zaman Kasunanan Giri dan Kerajaan Islam di Jawa waktu itu, selalu melaksanakan pasamuan agung yang utama dengan memanggil menghadap para Adipati, Tumenggung serta para pembesar lainnya yang sudah memeluk agama Islam. Pasamuan Agung tersebut dilaksanakan bersamaan dengan Hari Peringatan Islam tanggal 10 Dzulhijjah yang disebut Garebeg Besar atau Idhul Adha.
Berdasarkan adat yang berlaku pada saat itu, maka Panitia menetapkan wisuda Tumenggung Surajaya menjadi Adipati Lamongan yang pertama dilakukan dalam pasamuan agung Garebeg Besar pada tanggal 10 Dzulhijjah Tahun 976 Hijriyah. Selanjutnya Panitia menelusuri jalannya tarikh hijriyah dipadukan dengan jalannya tarikh masehi, dengan berpedoman tanggal 1 Muharam Tahun 1 Hijriyah jatuh pada tanggal 16 Juni 622 Masehi, akhirnya Panitia Menemukan bahwa tanggal 10 Dzulhijjah 976 H., itu jatuh pada Hari Kamis Pahing tanggal 26 Mei 1569 M.
Dengan demikian jelas bahwa perkembangan daerah Lamongan sampai akhirnya menjadi wilayah Kabupaten Lamongan, sepenuhnya berlangsung di zaman keislaman dengan Kasultanan Pajang sebagai pusat pemerintahan. Tetapi yang bertindak meningkatkan Kranggan Lamongan menjadi Kabupaten Lamongan serta yang mengangkat/mewisuda Surajaya menjadi Adipati Lamongan yang pertama bukanlah Sultan Pajang, melainkan Kanjeng Sunan Giri IV. Hal itu disebabkan Kanjeng Sunan Giri prihatin terhadap Kasultanan Pajang yang selalu resah dan situasi pemerintahan yang kurang mantap. Disamping itu Kanjeng Sunan Giri juga merasa prihatin dengan adanya ancaman dan ulah para pedagang asing dari Eropa yaitu orang Portugis yang ingin menguasai Nusantara khususnya Pulau Jawa.
Tumenggung Surajaya adalah Hadi yang berasal dari dusun Cancing yang sekarang termasuk wilayah Desa Sendangrejo Kecamatan Ngimbang Kabupaten Lamongan. Sejak masih muda Hadi sudah nyuwito di Kasunanan Giri dan menjadi seorang santri yang dikasihi oleh Kanjeng Sunan Giri karena sifatnya yang baik, pemuda yang trampil, cakap dan cepat menguasai ajaran agama Islam serta seluk beluk pemerintahan. Disebabkan pertimbangan itu akhirnya Sunan Giri menunjuk Hadi untuk melaksanakan perintah menyebarkan Agama Islam dan sekaligus mengatur pemerintahan dan kehidupan Rakyat di Kawasan yang terletak di sebelah barat Kasunanan Giri yang bernama Kenduruan. Untuk melaksanakan tugas berat tersebut Sunan Giri memberikan Pangkat Rangga kepada Hadi.
Ringkasnya sejarah, Rangga Hadi dengan segenap pengikutnya dengan naik perahu melalui Kali Lamong, akhirnya dapat menemukan tempat yang bernama Kenduruan itu. Adapu kawasan yang disebut Kenduruan tersebut sampai sekarang masih ada dan tetap bernama Kenduruan, berstatus Kampung di Kelurahan Sidokumpul wilayah Kecamatan Lamongan.

Di daerah baru tersebut ternyata semua usaha dan rencana Rangga Hadi dapat berjalan dengan mudah dan lancar, terutama di dalam usaha menyebarkan agama Islam, mengatur pemerintahan dan kehidupan masyarakat. Pesantren untuk menyebar Agama Islam peninggalan Rangga Hadi sampai sekarang masih ada.

Saturday, January 14, 2012

Cerita Sejarah Bencana Banjir di Parengan 1994

-->
                April 1994, Kala itu  pagi sangat cerah sehingga Matahari tak ragu menyinari cahayanya. Burungpun berkicau berterbangan bak keluar dari sangkar. Pagi terasa segar namun, kesegaran itu terusik dengan kabar yang diumumkan oleh Bapak Aparat Desa tentang ketinggian air sungai bengawan Solo semakin meningkat. Sementara tanggul desa Parengan sudah tidak akan bisa lagi bertahan. Mendengar berita tersebut masyarakat Desa berduyun-duyun menuju tanggul tepi bengawan Solo yang dianggap paling rawan, untuk bekerja bakti meninggikan tanggul.
                Dengan penuh semangat semua warga membawa peralatan yang dibutuhkan. Dan tak sedikit yang membawa karung/sak guna diisi dengan tanah/pasir. Semua warga saling bergotong royong bahu-membahu untuk mempertahankan tanggul agar air bengawan Solo tidak terus meluber. Tak sedikit juga warga penduduk desa tetangga atau desa lain ikut membantu bergotong royong dengan meninggikan tanggul.
                Waktu terus bergulir, detik ke menit, menitpun berganti dengan jam, matahari bergeser terus hingga terik matahari sangat menyengat, tenaga masyarakat pun tampak amat terasa lelah dan letih. Hingga menjelang sore pun debit air Bengawan Solo terus semakin meninggi. Akhirnya tepat jam 3 sore hari Senin tanggal 28 April 1994 tanggul barat Desa Parengan RT 4 yang sudah sejak pagi dengan susah payah masyarakat perjuangkan untuk tidak jebol, akhirnya amblas bersama gerumuh derasnya air sungai Bengawan Solo mengisi Desa yang berada di kecamatan Maduran tersebut.
                Suasana semakin mencekam. Masyarakat semakin panik dan bingung akan mau kemana. Telinga terasa terngiang-ngiang pemberitahuan aparat Desa yang semakin membuat hati was-was. dengan hati yang carut marut, semua warga berlarian menyelamatkan diri dan barang berharga. Masyarakat pun berbondong-bondong pergi ke tanggul Pemerintah (tanggul belakang) karena tanggul tersebut di anggap aman.
                Banjir menenggelamkan semuanya, rumah penduduk, tempat ibadah (masjid), balai Desa, Balai Pengobatan (BP), sarana pendidikan (sekolah dan pondok pesantren). Bahkan jalan raya satu-satunya jalur transportasi menghubungkan kecamatan Laren pun tak bisa dilalui. Perekonomian desa Parengan menjadi macet total sehingga Masyarakat hanya bisa meratapi nasib mereka. Bahkan anak-anak sekolah harus mengikuti Akhir Nasional dengan kondisi yang memprihatinkan. Tak ada air bersih untuk kebutuhan sehari-hari, untuk mandi, untuk masak dan MKCK berbaur menjadi satu.
                 Akhirnya waktu terus berjalan. Sehingga Tuhan memberikan cahayanya bagi warga. Sekitar satu bulan lebih air bengawan Solo menghiasi seluruh Wilayah Desa Parengan, akhirnya debet air semakin menurun. para warga pun mulai bangkit lagi dengan kondisi seadanya. Mereka tak akan larut dalam kesedihan. Bencana yang baru saja mereka alami tersebut akan menjadi memori buruk yang mereka alami. Sehingga mereka berharap bencana banjir yang terjadi pada 1994 tidak akan terjadi untuk kedua kalinya.

Friday, January 13, 2012

Asal Mula Nama Desa Parengan

-->
Mungkin nama Desa Parengan terlalu asing didengar di telinga masyarakat luas. Tapi semua itu tidak berlaku pada masyarakat yang berada di Kabupaten Lamongan. Hal tersebut dikarenakan Lokasi desa Parengan berada di Kota Lamongan atau lebih tepatnya berada di Kecamatan Maduran.
Pada realita yang ada Desa Parengan telah memberikan sumbangsinya kepada Lamongan dan Sekitarnya dengan memproduksi kerajinan tenun ikat. Jika kita berkunjung di desa yang berada dekat dengan bantaran bengawan Solo tersebut, kita akan disuguhi dengan kesibukan para warganya membuat Kerajinan Tenun Ikat yang berupa Sarung. Kerajinan tersebut merupakan salah satu peninggalan Belanda pada masa penjajahan. Dan hingga kini masyarakat tersebut masih melestarikan kebudayaan tersebut hingga masa sekarang.
Desa Parengan merupakan desa yang dekat dengan bantaran Bengawan Solo jarak antara Bengawan Solo dengan desa kurang lebih 60 m. dibatasi dengan 2 tangkis. yakni tangkis desa (depan) dan tangkis pemerintah (belakang). Tangkis yang membatasi antara bengawan Solo dan desa adalah swadaya masyarakat. sedangkan tangkis yang berada dibelakang adalah tangkis pemerintah. Desa ini terletak di wilayah kecamatan Maduran Kabupaten Lamongan diantara 17 desa yang ada. dengan luas 83 ha terdiri dari 16 RT, 4 RW dan 646 KK (menurut data tahun 2009). Tapi sebenarnya darimana nama Parengan tersebut.
            Ya … Nama Parengan sendiri diambil dari cerita terkenal “MBOK RONDO DADAPAN” seorang putri yang sangat elok dan disegani oleh rakyatnya. Pada saat mengadakan perjalanan beliau tak sengaja singgah di sebuah desa asing. Sang putrid merasa sangat senang dengan masyarakat di desa tersebut. Hal tersebut dikarenakan masyarakat tersebut amat senang membantu dan memberikan apa yang mereka miliki pada pendatang termasuk sang putri. Sang orang-orang yang Putri temui itu sangant peduli dengan sesama termasuk padanya. Sehingga sang putrid menyebut mereka dengan “PEPARENG” yang artinya selalu ingin memberi. Dan atas segala kebaikan masyarakat, hingga kini di desa tersebut dikenal dengan sebutan Desa “PARENGAN”.